Breaking News
recent

Dwi Marfiana, Ciptakan Batik Khas Demak

KHAS DEMAK : Dwi Marfiana menunjukan batik tulis, yang diyakininya khas Demak

DEMAK- Beberapa motif batik banyak diminati oleh masyarakat, namun dari sekian banyak batik belum tentu membawa ciri khas kedaerahan. Berbeda dengan pebisnis batik, Dwi Marfiana (49), warga Desa Karangmlati, Kecamatan Bonang, yang terus mencoba mencari batik khas kedaerahan, khususnya Demak.

Demak merupakan wilayah pesisir, pertanian dengan nilai Islam yang tinggi akan menjadi satu kesatuan corak batik. Namun Demak juga masih beraroma Majapahitan, yang selalu membuat ibu satu anak ini terus bereksperimen menciptakan motif batik yang khas.

Ternyata upayanya membuat batik tulis banyak diminati, sehingga pembuatan batik  dapat memberikan lapangan pekerjaan baru di desanya. “Awalnya saya ingin melestarikan budaya batik, yang selanjutnya justru menjadi sumber mata pencaharian,” ungkap Dwi.

Batik Demak lahir enam abad silam, namun seakan menghilang seiring perpindahan Kasultanan Demak Bintoro ke Pajang. Batik Demak mulai dirintis di wilayah pesisiran dan hasilnya luar biasa.

Usaha Dwi ternyata tidak sia-sia, batik tulis Demak yang diusungnya dari motif nenek moyang dengan dipadukan ciri potensi daerah Demak perlahan mulai dikenal oleh beberapa pelanggan dari Demak sendiri, luar kota dan bahkan sampai ke mancanegara.

“Yang banyak diminati batik kami adalah metode pewarnaan batik tulis dengan menggunakan bahan alami seperti dedaunan, daripada pewarnaan dengan bahan sintetis. Kebanyakan turis menyukai pewarnaan batik dengan bahan alami, “ kata Kasi Promosi Dinas Pariwisata Demak ini saat ditemui di rumah sekaligus bengkel batik dan toko batik miliknya.

Mulai tahun 2006, dirinya merintis usaha batik, mencoba merangkul anak-anak putus sekolah untuk menerima keterampilan membatik. Dalam perkembangannya 15 anak berhasil pandai membatik, sehingga dibuatkan wadah sebagai perajin batik di Desa Karangmlati.

Kebanyakan peminat batik tulis karena pewarnanya menggunakan bahan alami seperti dedaunan, daripada pewarnaan dengan bahan sintetis. Bahkan beberapa turis menyukai pewarnaan batik ini hingga pelanggan dari golongan menengah keatas banyak yang memesan.

Sekarang omzet batiknya mencapai Rp 80 juta per tahun, bila ramai dalam sehari bisa mendapatkan Rp 10 juta. Dan pelanggan batik tulisnya hingga ke mancanegara, seperti Malaysia, Singapura dan Filipina dengan harga jual Rp 100 ribu sampai Rp 1,5 juta per potong dengan ukuran 2 meter.

Batik tulis miliknya menonjolkan motif pesisiran dan corak Masjid Agung Demak, Jambu, Belimbing, Bledek dan sisik ikan atau binatang laut. Dari motif ini, membawanya ke Singapura, karena Kedubes RI di Singapura memamerkan batik tulisnya dalam Pekan Enchanting Indonesia 2011 yang bertujuan mempromosikan budaya Indonesia. Keberhasilan di Singapura membuatnya pernah ditawari untuk mengajar membatik di singapura, namun ditolaknya. (swi/15)
Warga Demak

Warga Demak

1 comment:

  1. Ada alamat websitenya gak, apakah menerima reseller/dropship?

    ReplyDelete

Silahkan tulis komentar, saran dan kritik anda di kolom komentar yang telah tersedia!
Terima kasih atas kunjungannya, semoga silaturrahim ini membawa berkah dan manfaat untuk kita semua, dan semoga Warga Demak makin maju dan sukses selalu. amin.

Powered by Blogger.