Breaking News
recent

Tanggul Sungai Wulan Jebol 40 Meter, Disapu Banjir, Harta Benda Lenyap

Sebagian warga memantau titik tanggul Sungai Wulan yang jebol sepanjang 40 meter di Desa Mijen, Kecamatan Mijen, Kabupaten Demak yang berbatasan dengan Jepara.

Warga Desa Jleper, Kecamatan Mijen, Kabupaten Demak mengungsi di GOR Sepak Takraw Welahan, Kabupaten Jepara.(SM/Muhammadun Sanomae)


 
DEMAK-Sofiyatun (43), warga DesaJleper RT 1 RW 2 Kecamatan Mijen, Kabupaten Demak, Jumat (12/4) siang terlihat letih. Sambil memangku putrinya di lantai GOR Sepak Takraw Welahan, Kabupaten Jepara, ia memilah sedikit pakaian tersisa yang terbungkus di kantong plastik. Ia membaur dengan ratusan pengungsi lain yang rumahnya terendam banjir akibat jebolnya tanggul  Sungai Wulan di Desa Mijen Kecamatan Mijen, Demak.
     
“Hanya ini yang saya punya. Suami saya baru saja kembali ke desa, barangkali ada pakain basah yang masih bisa diambil,”  tutur Sofiyatun. Rumah perempuan yang memiliki tiga anak ini nyaris tenggelam, tinggal terlihat gentingnya, karena air banjir setinggi 2,5 meter melanda kampungnya. Sisa gabah stok pangan hasil panen beberapa pekan lalu tak karuan kondisinya. Ia bilang, sudah tiga hari ini terendam air di rumah, termasuk barang-barang alektronik, dan pakaian.
     
Ia hanya bisa menyelamatkan sedikit pakaian, karena banjir datang begitu cepat. Rumahnya berjarak sekitar 2 km dari titik tangul yang jebol, namun hanya berselang dua jam air sudah memenuhi rumahnya. Saat banjir datang, yang terpikir bagaimana bisa selamat,” ungkapnya. Nasib seperti Sofiyantun juga dialami sebagian besar warga Desa Jleper yang berpenduduk sekitar 6.000 jiwa.
     
Jleper adalah desa yang terkena dampak banjir terparah dari delapan desa di Demak bagian utara yang berbatasan dengan Jepara. Desa lain yang teredam adalah Ngelo Kulon, Pecuk, Ngegot, Mijen, Rejosari dan Jetak. Keenamnya ada di Kecamatan Mijen. Dua desa lain di Kecamatan Wedung juga mulai terendam dua hari ini, yaitu Desa Mutih dan Ujungsemi.
     
Nurul (29) warga Desa Jleper mengatakan, saat banjir tiba, warga terbelah. Sebagian memilih menyelamatkan diri ke arah selatan melewati jembatan lalu mengungsi di tenda di tanggul sungai dan bertahan hingga kemarin.
      
Sebagian lagi ke arah utara, yaitu ke Jepara yang kini sebagian ditampung di GOR Welahan. Sebagian lagi memilih tinggal di rumah keluarganya terdekat yang aman dari banjir. Membujur dari timur di titik tanggul yang jebol dan ke barat ke arah muara sungai di Laut Jawa, tanaman padi, melon, semangka dan bawang merah terancam.
     
H Tamam, kepala Seksi Pemerintahan Desa Jleper yang mendampingi pengungsi di GOR Welahan mengatakan, selain pangan, saat ini pengungsi membutuhkan bantuan seperti selimut, bantal, dan pakaian. “Kami berharap pemerintah cepat bertindak dan mengatasi berbagai masalah akibat banjir ini,” ujarnya.
Ratusan pengungsi itu mulai tinggal di GOR Welahan sejak Kamis malam. Palang Merah Indonesia (PMI) Cabang Jepara dua hari sebelumnya buka dapur umum untuk membantu pengungsi di Desa Mijen, namun sejak kemarin berpindah ke GOR Welahan.
     
Sekretaris Kecamatan Mijen Anang Rumiyat mengatakan, evakuasi pengungsi masih berjalan karena banyak pengungsi yang terpencar. “Kami berupaya menempatkan pengungsi ke tempat yang lebih nyaman, salah satunya di GOR Welahan ini. Kami berterima kasih relawan dari Jepara dari berbagai unsur membantu total,” katanya. (Muhammadun Sanomae/SMnetwork/njs)
Toni Tok

Toni Tok

No comments:

Post a Comment

Silahkan tulis komentar, saran dan kritik anda di kolom komentar yang telah tersedia!
Terima kasih atas kunjungannya, semoga silaturrahim ini membawa berkah dan manfaat untuk kita semua, dan semoga Warga Demak makin maju dan sukses selalu. amin.

Powered by Blogger.