Breaking News
recent

Aksi Demo dengan Buang Tempe Busuk


Sejumlah tempe busuk dibuang dalam aksi demo di pasar Sayung, Senin (9/9). (HARSEM/SUKMAWIJAYA)

Puluhan pedagang dan perajin tahu-tempe melakukan aksi membuang tempe busuk. Mereka berdemo, akibat pemerintah belum mampu mengantisipasi fluktuatif harga kedelei

DEMAK- Instruksi dari Gabungan Koperasi Tahu-tempe Indonesia (Gapoktindo) untuk mogok produksi tahu-tempe, benar-benar ditanggapi serius oleh pedagang dan perajin tahu-tempe wilayah Kecamatan Sayung.

Demo diwarnai dengan aksi membanting hasil produksi tempe yang sudah busuk, di kawasan pasar Sayung. Sekaligus menggelar poster-poster, berisi tuntutan kepada pemerintah segera melakukan langkah menstabilkan harga kedelai, dan mendesak diberlakukan monopoli kedelai dikembalikan ke Bulog.
    
Sesuai Perpres nomor 32 tahun 2013 tentang penugasan kepada Bulog untuk pengamanan harga dan penyaluran kedelai, seharusnya Perusahaan Umum Bulog (Badan Urusan Logistik) sudah melaksanakan pengamanan harga terhitung mulai tanggal 1 Juli 2013 dengan harga Rp 7.450 per-kg.

Kenyataannya Bulog belum bekerja sehingga fluktuatif harga kedelai impor tak terkendali dan berimbas pada kerugian pedagang serta perajin tempe-tahu.

Ketua Primkopti Demak, Nurhasim menyatakan aksi demo tersebut merupakan bentuk solidaritas para perajin dan pedagang tahu-tempe yang semakin merana. Pihaknya meminta pemerintah memperhatikan kondisi mereka yang menerima dampak secara langsung kenaikan harga kedelai.

Pihaknya sudah tak sabar dengan kondisi ini, dan berharap aksi tersebut bisa menjadi perhatian pemerintah. Aksi mogok dan demo tersebut dilakukan oleh semua perajin dan pedagang tahu tempe di Sayung, dan semua pedagang dan perajin tidak ada yang beroperasi mulai hari ini,” tegasnya.

Pedagang tempe, Sopiyah (42) warga Desa/Kecamatan Sayung, terlihat sangat marah, dalam aksinya dia banyak berteriak memaki kinerja pemerintah yang kurang tanggap dengan kondisi pedagang kecil. “Dagangan tempe yang saya jual tidak laku karena mahal,” ungkapnya, Senin (9/9).

Sepotong tempe, biasanya seharga Rp 800 kini menjadi Rp 1.000, meski hanya naik sekitar Rp 200, tapi ukuran yang kecil membuat konsumen enggan membeli. Banyak konsumen, lanjutnya, beralih membeli tempe gembus karena harganya jauh lebih murah, sebiji hanya Rp 150.

Dia mengaku pendapatannya menurun akibat meningginya harga kedelai, sehingga tempe yang dibelinya dari perajin lebih mahal dari biasanya. Sebelumnya setiap hari dirinya mendapat untung sampai Rp 30 ribu, setelah harga kedelai melangit dia hanya menerima untung Rp 10 ribu.

Saat belanja di Pasar Sayung, Susilo (50) warga Desa Sidogemah Kecamatan Sayung, mengatakan biasanya harga tempe per-papan hanya Rp 900 sekarang bisa jadi Rp 1.200. Pedagang gorengan ini mengaku cukup keberatan dengan kenaikan tersebut.

Selain mahal, ukurannya tempe jauh lebih kecil daripada biasanya. “Meski tempe mahal, saya belum bisa menaikkan harga gorengan karena takut pelanggannya malah kabur,” akunya. Kendati harga tempe di pasaran sudah naik, dia belum manaikan harga gorengannya per-biji yaitu Rp 500. (swi/hst)
Toni Tok

Toni Tok

No comments:

Post a Comment

Silahkan tulis komentar, saran dan kritik anda di kolom komentar yang telah tersedia!
Terima kasih atas kunjungannya, semoga silaturrahim ini membawa berkah dan manfaat untuk kita semua, dan semoga Warga Demak makin maju dan sukses selalu. amin.

Powered by Blogger.