Breaking News
recent

Berburu Menu Khas Tradisi Megengan

Hidangan sate keong berbumbu rempah menjadi menu andalan dalam tradisi megengan, yang digelar menyambut bulan Ramadhan 1434 H, kemarin, di kawasan Alun-alun Demak.
BAGI masyarakat Demak berburu makanan khas pada tradisi megengan menjadi kebiasaan yang tidak bisa ditinggalkan menjelang bulan Ramadan. Sekalipun hujan mengguyur deras tradisi yang telah berlangsung turun temurun tersebut, kemarin.
   
Heni (46) dan suaminya, Andik (58), warga Perumahan Sultan Fatah Regency mengaku selalu mendatangi Alun-alun untuk berburu kuliner. Menu andalan di tradisi megengan yang selalu dinanti adalah lontong sayur lodeh dengan lauk sate keong.
   
Ditanya habis berapa tusuk sate keong, staf Humas Setda Demak itu pun mengaku bisa habis 10 tusuk. Menurutnya, bumbu lontong sayur lodeh itu tidak bisa disamai meski bikin sendiri di rumah.
  
“Rasanya (lontong sayur lodeh) selalu ngangenin, saya pernah bikin sendiri tidak bisa sama,” katanya seraya melahap sate keong.
   
Hal senada diungkapkan Andri (35), warga Kalialit yang selalu merindukan tradisi megengan setiap menjelang bulan Ramadhan. Kendati makanan kini banyak ragamnya, tapi menu megengan senantiasa dirindukan.
   
Jasipah (64), salah satu penjual mengaku sudah lebih 10 tahun dirinya menjual beragam menu megengan. Dengan dibantu anak dan salah seorang tetangga, ia mampu menjual habis 10.000 tusuk sate keong.
   
Warga Kampung Kauman ini mengatakan, resep beragam menu tersebut hasil kreasi sendiri yang telah diwariskan secara turun temurun. Adapun menu lengkap dalam tradisi itu berupa lontong, sayur opor, sambel goreng rambak, sayur lodeh, gudeg. Sedangkan lauknya terdiri sate keong, ceker, daging ayam, peyek, sate ayam dan kerupuk.
   
Sri Sugiarti (54), tetangga Jasipah mengatakan, satu porsi lontong sayur hanya Rp 5.000, jika ditambah daging ayam cukup Rp 7.500/porsi. Sedangkan satu tusuk sate keong harganya Rp 1.500.
   
“Sate keong di tradisi megengan ini bumbunya khas, campuran bawang merah dan putih, serta kencur,” katanya.
   
Pantauan di lapangan, sejumlah pedagang mulai menggelar barang dagangan di sekitar Alun-alun sekitar pukul 16.00. Sedikitnya ada 10 penjual yang menjajakan beragam menu khas megengan.
     
Hujan yang turun sekitar satu jam tidak menyurutkan langkah masyarakat untuk memadati alun-alun. Akibatnya, macet pun tak terelakkan hingga tradisi megengan berakhir sekitar pukul 19.00. (SMNetwork/Hartatik/Swi/hst)
Toni Tok

Toni Tok

No comments:

Post a Comment

Silahkan tulis komentar, saran dan kritik anda di kolom komentar yang telah tersedia!
Terima kasih atas kunjungannya, semoga silaturrahim ini membawa berkah dan manfaat untuk kita semua, dan semoga Warga Demak makin maju dan sukses selalu. amin.

Powered by Blogger.