Breaking News
recent

Perajin Tempe Beralih Jual Ayam Potong

Pedagang tahu tempe Sri Suprapti (43) beralih jual ayam potong. (harsem/sukmawijaya)

Para pedagang tempe dan pengurus Primpkopti Demak doa bersama di Pasar Bintoro, meminta pemerintah segera bijak mengawasi pemasaran kedelai. (harsem/sukmawijaya)




Demak-Dampak  fluktuatif harga kedelai berakibat  tempe di Demak mahal harganya. Hal ini mendorong mereka untuk membuka usaha lain, seperti menjual ayam potong.

Hampir separuh usianya, Sri Suprapti (43) warga Kelurahan Bintoro, berdagang tahu tempe di Pasar Bintoro. Belakangan muncul aksi mogok produksi yang dilakukan oleh para perajin tempe selama tiga hari, memaksanya berjualan tahu sisa dagangannya kemarin.

"Kalau hanya jual tahu saja, saya gak bisa mencukupi kebutuhan rumah, karena itu saya segera menambah dagangan lain yaitu ayam potong,” akunya saat ditemui, Rabu (11/9). Karena tak ada tempe, dia terpaksa berjualan tahu.

Dampak tingginya harga kedelai di pasaran membuat dirinya terpaksa menaikkan harga tahunya, rata-rata tahu yang dijualnya naik menjadi Rp 1.000 per-papan. Namun kenaikan itu justru mengurangi minat pembeli, kemudian berimbas pada penghasilannya.

Sumiyati (38) pedagang tahu tempe lain, mengaku akibat ada mogok produksi tempe, membuat dirinya praktis tak bisa berjualan tahu tempe. Dirinya sementara ini beralih berjualan daging ayam potong.
"Dari kemarin saya sudah tak jualan tempe karena pasokannya susah, dan saya beralih jual daging ayam dulu yang penting ada penghasilan," ungkapnya.

Sementara, pengurus Primer Koperasi Tahu Tempe Indonesia (Primkopti) Demak bersama sejumlah perajin tahu tempe menggelar sweeping pedagang yang masih berjualan tahu tempe di pasar Bintoro.

Dalam aksi tersebut, para perajin memborong semua dagangan tahu dan tempe yang masih di jual untuk kemudian dibagi-bagikan secara gratis kepada warga yang berada di dalam pasar. “Aksi in sebagai wujud keprihatinan kami atas mahalnya harga tahu tempe akibat tak terkendalinya harga kedelai di pasaran,” ucap Ketua Primkopti Demak, Nurhasim.

Padahal, tahu tempe merupakan produk yang sudah menjadi makanan sehari-hari bagi masyarakat. Sangat ironis, ketika tahu tempe sudah menjadi makanan yang bergizi dengan harga yang murah, sekarang sudah menjadi mahal, dan masyarakat enggan membeli.

Dalam aksi borong tahu tempe milik pedagang, sempat sejumlah pedagang yang ketakutan menyembunyikan dagangan tempenya di pakaiannya."Saya kira tadi mau dibuang dagangan saya ternyata mau dibeli semua," ujar seorang pedagang, Sumarni (45) warga Kampung Tanubayan Kelurahan Bintoro.

Usai melakukan sweeping dan membagikan puluhan bungkus tahu tempe, di halaman Pasar Bintoro puluhan perajin dan pedagang tempe melakukan doa bersama. Sambil menggelar puluhan potong tempe busuk yang diletakkan di sebuah tampah, mereka dengan khusyuk berdoa agar pemerintah segera merealisasikan pengaturan tata niaga kedelai melalui Bulog. (swi/hst)
Toni Tok

Toni Tok

No comments:

Post a Comment

Silahkan tulis komentar, saran dan kritik anda di kolom komentar yang telah tersedia!
Terima kasih atas kunjungannya, semoga silaturrahim ini membawa berkah dan manfaat untuk kita semua, dan semoga Warga Demak makin maju dan sukses selalu. amin.

Powered by Blogger.