Breaking News
recent

Melalui TMMD, TNI Akan Upayakan Peluang Pekerjaan Baru Bagi Warga


DEMAK – Ini salah satu alasan Kodim Demak menentukan lokasi TMMD Regke-96  Kodim 0716/Demak, di Desa Trengguli, Kecamatan Wonosalam. Yakni, sebuah desa yang minim lapangan kerja. Di Desa Trengguli, karena minim lapangan pekerjaan membuat  penduduknya mau berprofesi apa saja, termasuk mencari barang rongsokan alias rosok.

Melalui TMMD Kodim Demak merencanakan beberapa kegiatan non fisik, seperti pelatihan yang sifatnya bisa menciptakan lapangan pekerjaan baru di Desa Trengguli.

Kenyataan yang ada,  hampir sepuluh tahun terakhir, mencari rosok (ngrosok) telah menjadi pekerjaan tetap sebagian warga Trengguli. Meskipun tidak begitu menjanjikan, pekerjaan mencari rongsok diakui cukup bisa untuk  menyambung  hidup.

Seperti kenyataan di sebuah rumah seoran warga Trengguli, H Mukadi. Sejak empat bulan terakhir ini,  halaman rumah Haji Mukadi terlihat sesak dan sumpek, berbagai macam barang rongsokan memadati halaman rumahnya.

Barang-barang bekas itulah, seperti besi, tembaga, kuningan, alumunium, plastik, kertas, botol dan berbagai macam piranti yang sudah tak terpakai menjadi harapan hidup keluarganya. Sekaligus juga harapan penghasilan warga Dukuh Getas, Desa Trengguli  pada umumnya.

Usaha yang digeluti Mukadi, oleh masyarakat setempat dirasa cukup membantu. Pasalnya, selain sebagai “penadah” rosok Mukadi menyediakan modal bagi para pekerjanya guna membeli barang-barang bekas dari luar daerah. “bersyukur sekali ada yang minjamin uang setiap mau pergi ngrosok, ujar wardi, salah seorang pencari rosok.

Pencari rosok berbeda dengan pemulung. Pemulung kerjanya mengais barang-barang bekas di tempat-tempat pembuangan sampah. Sedangkan pencari rosok membeli barang-barang yang sudah tidak terpakai dari pemiliknya. Jadi pencari rosok butuh uang untuk mengganti barang yang dibelinya.

Selain itu, untuk membantu pencari rosok yang tidak mempunyai motor sendiri, Haji Mukadi menyediakan mobil pick up. Setiap pagi, mobil angkut berwarna putih itu ditumpangi sekitar 10-15 orang pencari rosok. Untuk mengganti jasa angkut itu, perkepala dikenai biaya sepuluh ribu perhari. “yang penting bisa sama-sama jalan. Mereka bisa mencari rosok, kami beli barangnya,” kata Muslimah, istri Haji Mukadi yang turut mengelola bisnis suaminya.

Setiap harinya ada sekitar 40 pencari rosok, baik dari getas sendiri dari maupun luar, menjual barang-barangnya kepada ansori. Tak heran jika seminggu sekali ansori bisa menjual satu truk kecil rosok kepada “penadah” yang lebih besar.

Peluang bisnis


Melihat peluang yang masih terbuka lebar, Slamet Wartoyo, warga Trengguli lainnya, akhirnya turut membuka usaha jual beli rosok. Tetapi ladang bisnisnya terletak di desa Mrisen, dekat jalan raya Trengguli-Demung. Menurutnya, di satu sisi rosok menawarkan peluang bisnis. Di sisi lain, turut menciptakan lapangan pekerjaan warga desa yang sering nganggur.

“Ya itung-itung latihan menjalankan bisnis. Dari pada hidup merantau terus di luar jawa,” kata pria lajang yang sebelumnya merantau di sulawesi. Meskipun baru satu minggu bisnisnya berjalan, Slamet Wartoyo dengan semangatnya yang masih muda begitu optimis menyambut hari depan.

Bekerja sebagai pencari rosok , bagi sebagian orang, memang karena tidak ada pilihan lain. Meskipun tidak begitu menjanjikan, hasil dari mencari barang-barang bekas cukup menopang ekonomi keluarga. “hasilnya tidak menentu, kadang dapat banyak. Tak jarang juga pulang dengan tangan kosong,” ungkap Wardi.

Kenaikan bbm turut mengganggu penghasilan pencari rosok. Harga bensin yang semakin mahal mengharuskan memotong penghasilan untuk membeli bahan bakar sebagai operasional mencari rosok sehari-hari. Sedangkan harga barang-barang rongsokan tidak naik.

Pekerjaan ini membutuhkan tenaga ekstra. Para pencari rosok berangkat pagi pulang menjelang magrib. Bahkan terkadang sampai di rumah pada malam hari, usai isya’.

Tetapi ini lebih baik dari pada menganggur sama sekali. “kalau panen padi tiba kan bisa kerja nge-dos,” sahut kasmijan.

Di tengah kehidupan yang serba sulit, para pencari rosok berharap agar barang-barang bekas selalu ada. Karena dari situlah mereka menggantungkan hidup.

Pemerintah sudah sepatutnya memberikan perhatian kepada pencari rosok dan pengusaha yang terancam kekurangan modal. Karena bagaimanapun mereka turut berjasa dalam menghemat sumber daya alam. Betapa tidak, pencari rosok membantu mengumpulkan barang-rang bekas untuk didaur ulang demi memenuhi kebutuhan manusia selanjutnya. (Pendim 0716/Demak)


Toni Tok

Toni Tok

No comments:

Post a Comment

Silahkan tulis komentar, saran dan kritik anda di kolom komentar yang telah tersedia!
Terima kasih atas kunjungannya, semoga silaturrahim ini membawa berkah dan manfaat untuk kita semua, dan semoga Warga Demak makin maju dan sukses selalu. amin.

Powered by Blogger.